Tips memilih asuransi
Tips
asuransi: pilih premi atau manfaat?
Oleh Teddy Gumilar, Anastasia Lilin Y - Senin, 27 Agustus 2012
| 12:10 WIB
JAKARTA. Sebagai produk proteksi, asuransi
tak bisa dimasukkan dalam jajaran keranjang investasi. Namun, pada
kenyataannya, tak sedikit, lo, yang masih mengaosiasikan asuransi sebagai
bentuk investasi. Alhasil, ketika diminta menyetor duit premi dan duit premi
lantas hangus karena tak ada klaim, sang pemilik polis asuransi merasa rugi.
Jangan-jangan, Anda termasuk yang masih
berpikiran seperti ini?
Seperti menjawab realita di masyarakat
tersebut, perusahaan asuransi pun putar otak. Hasilnya, dalam beberapa tahun
terakhir makin banyak dijumpai produk asuransi yang memberi iming-iming
pengembalian premi yang sudah dibayarkan pemegang polis.
Satu produk yang baru meluncur di pasaran
adalah Maestro Hospital Plan. Ini adalah asuransi kesehatan yang dibesut PT AXA
Financial Indonesia. Premi yang mesti dibayar dari Rp 95.000 hingga sekitar Rp
740.000 per bulan.
Beberapa manfaat yang ditawarkan adalah
penggantian biaya rawat inap hingga Rp 1 juta per hari, biaya harian kamar unit
perawatan intensif sampai Rp 2 juta per hari dan biaya bedah sampai Rp 10 juta
per pembedahan. Ada pula penggantian biaya pemulihan atas perawatan di
rumahsakit sampai Rp 2 juta dan santunan duka sampai Rp 10 juta untuk risiko
meninggal dunia.
AXA mensyaratkan pemegang polis membayar
premi selama tujuh tahun untuk mendapat manfaat pertanggungan selama 10 tahun.
Pada akhir tahun ke-10 ini, AXA akan membayarkan 70% dari total premi yang
dibayar meski selama masa pertanggungan ada pengajuan klaim. “Tidak ada syarat
apa pun yang harus dipenuhi nasabah untuk mendapatkan pengembalian premi
tersebut,” kata Elsye Chatarina, Direktur Penjualan AXA Financial.
Direktur Senior Partner OneShildt Financial
Planning Budi Raharjo berpendapat, nilai positif asuransi yang mengembalikan
premi adalah bisa merangsang keluarga untuk membeli produk proteksi. Di sisi
lain, dengan pengembalian premi berarti nasabah menghemat sejumlah uang yang
seharusnya dibayarkan untuk premi. “Nilai lebih ini menjadikan asuransi dengan
pengembalian premi menjadi lebih menarik daripada yang tidak,” kata Budi.
Dengan patokan manfaat yang sama, asuransi
yang memberikan pengembalian premi umumnya memungut premi yang lebih besar
ketimbang yang tidak mengembalikan premi. Sebab, menurut Budi, premi risiko
asuransi tersebut sudah masuk ke dalam risk pool. Premi ini tidak mungkin
dikeluarkan kembali kecuali di asuransi syariah. Ini pun dibagikan sesuai porsi
antara pemegang polis dan perusahaan asuransi.
Manfaat adalah pertimbangan
utama
Tawaran manfaat plus pengembalian dari
asuransi jenis ini sekilas tampak menggiurkan. Namun, perencana keuangan
mencoba memberi gambaran lebih luas agar Anda juga paham dengan kekurangan dari
produk ini. Tujuannya agar Anda bisa memaksimalkan “manfaat” produk ini.
Perencana keuangan dari Fin-Ally Financial
Consulting Kurnia Sukmanagara mengatakan, manfaat yang ditawarkan mesti menjadi
pertimbangan utama keluarga. Tak terkecuali dalam membeli asuransi yang
mengembalikan premi.
Kurnia menjelaskan, program dasar dari
asuransi kesehatan yaitu In-Patient atau manfaat rawat inap. Manfaat ini
meliputi jasa dokter umum, dokter spesialis, obat, fisioterapi, dan diagnostik.
Termasuk pula, pembedahan, dari bedah kecil sampai yang kompleks, pemulihan
setelah rawat inap, ambulans, santunan rawat jalan karena kecelakaan, dan
santunan kematian. “Saya melihat produk yang mengembalikan premi tidak memiliki
manfaat dasar yang umumnya dimiliki asuransi kesehatan,” kata Kurnia.
Apa yang disampaikan Kurnia tersebut mengacu
pada besar premi yang sama. KONTAN lalu mencoba membandingkan Maestro Hospital
Plan dengan asuransi lain yang tidak memberikan premi, yakni Allisya Care dari
PT Asuransi Allianz Life Indonesia. Dengan premi kurang lebih sama, yakni
Maestro Plan Saphire Rp 4.815.400 per tahun dan Allisya Plan H Rp 4.797.000 per
tahun, manfaat yang ditawarkan keduanya cukup berbeda. Ini dilihat dari variasi
manfaat yang ditawarkan dan batasan maksimal penggantian biaya yang ditanggung.
Ambil contoh, penggantian biaya kamar Maestro
Plan Saphire adalah Rp 1 juta per hari untuk maksimal 90 hari per tahun.
Sementara, Allisya Plan H juga menanggung penggantian biaya kamar Rp 1 juta per
hari, tapi untuk maksimal 180 hari per tahun. Perbedaan lain, seperti biaya
kunjungan dokter dan perawatan dokter spesialis hanya ada di Allisya Plan H,
sedangkan Maestro Plan Saphire tak memberi manfaat ini.
Memang, sih, apa yang diperbandingkan KONTAN
tersebut tidak bisa mewakili asuransi yang mengembalikan premi dengan asuransi
kesehatan murni yang jumlahnya ratusan di pasaran. Namun, setidaknya ini bisa
menjadi motivasi bagi Anda untuk lebih jeli membandingkan jeroan dari asuransi
yang akan Anda beli.
Siapa yang butuh?
Selain manfaat yang ditawarkan, Budi
menambahkan hal lain yang harus dipertimbangkan keluarga adalah reputasi
perusahaan asuransi. Ini untuk melihat profesionalitas dan kompetensi
perusahaan dalam menanggapi klaim para pemegang polis.
Tak lupa, tengok pula isi kantong keluarga.
Kata Budi, murah belum tentu berarti yang terbaik, tapi terlalu mahal juga bisa
jadi tidak efisien. “Jadi, seimbangkan kebutuhan antara kebutuhan perlindungan
asuransi, pelayanan, klaim, dan beban premi untuk mencari produk yang paling
sesuai dengan keluarga,” beber Budi.
Kalau semua variabel pertimbangan tadi sudah
Anda dan keluarga lalui, saatnya menentukan pilihan. Mau asuransi dengan
pengembalian premi atau asuransi kesehatan yang murni saja.
Pendapat Budi, yang paling cocok mengambil
asuransi yang mengembalikan premi adalah pemegang polis yang masih awam dengan
asuransi dan baru mulai berasuransi. Sementara, Kurnia menyebut profil yang
cocok dengan asuransi seperti Maestro milik AXA adalah mereka yang mau membayar
premi asuransi dengan jangka waktu lebih sedikit dibanding jangka waktu
menikmati manfaat asuransi.
Setelah mendapat gambaran, mana yang Anda
pilih?
Sumber: Rubrik Kocek Mingguan
Kontan Edisi 13-19 Agustus 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar